Dalam lingkungan pendidikan Islam, peran ustadz dan ustadzah bukan sekadar menyampaikan ilmu. Mereka adalah cerminan nilai-nilai Al-Qur’an dan akhlak Rasulullah ﷺ yang hidup di tengah santri. Di tangan merekalah terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa Qur’ani, berakhlak mulia, dan siap mengabdi untuk umat.
Setiap gerak dan tutur seorang pendidik mencerminkan nilai yang dia ajarkan. Bagi para santri, ustadz dan ustadzah bukan hanya guru di kelas, tetapi juga panutan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melihat bagaimana gurunya berinteraksi, bersabar, bersikap jujur, disiplin, dan berkasih sayang. Semua itu menjadi pelajaran hidup yang tak tertulis.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadits ini bukan hanya mengandung perintah mengajar, tapi juga amanah untuk menjadi contoh nyata dari nilai-nilai Al-Qur’an yang diajarkan.
Mengajar di lembaga pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas, tetapi ibadah yang menuntut keikhlasan dan kesabaran. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesalahan yang diperbaiki, dan setiap doa yang dipanjatkan untuk santri menjadi ladang pahala yang tidak terputus.
Ustadz dan ustadzah mendidik dengan hati. Mereka memahami bahwa setiap santri memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang berbeda. Oleh karena itu, mereka membimbing dengan penuh kasih sayang, menasihati dengan kelembutan, dan menanamkan semangat belajar tanpa paksaan. Dengan pendekatan ini, suasana belajar menjadi penuh berkah dan bermakna.
Baca Juga : Jalan Menuju Suara Indah dan Merdu: Ngaji Al Qur’an Rutin Hari Senin Bersama Bapak Eman Suherman, S. Pd. I.
Selain mengajarkan tajwid, tahfidz, atau tafsir, para ustadz dan ustadzah juga menanamkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, amanah, disiplin, dan tanggung jawab. Santri belajar bukan hanya menghafal ayat, tetapi juga memahami makna dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Melalui keteladanan para pendidik, santri diajak untuk hidup sederhana, menghargai waktu, dan berbuat baik kepada sesama. Nilai-nilai ini menjadi pondasi utama dalam membangun pribadi santri yang unggul dan berakhlakul karimah.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, tantangan seorang ustadz dan ustadzah semakin besar. Mereka dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami karakter generasi muda masa kini yang akrab dengan teknologi dan informasi. Dengan kreativitas dan kebijaksanaan, para pendidik harus mampu memadukan nilai-nilai Islam dengan metode pembelajaran yang relevan, menarik, dan kontekstual.
Namun, meski tantangan kian kompleks, semangat mereka untuk mencetak generasi Qur’ani tak pernah surut. Justru di sinilah makna perjuangan itu terasa menjaga kemurnian nilai Islam di tengah dunia yang terus berubah.
Ustadz dan ustadzah adalah penjaga cahaya ilmu (‘ulama waratsatul anbiya). Mereka meneruskan tugas mulia para nabi dalam menyebarkan kebenaran dan membimbing manusia menuju jalan Allah. Di lingkungan seperti Pendidikan Al-Qur’an Nitikan Yogyakarta, peran ini terasa nyata: membangun suasana penuh keberkahan, membentuk generasi berilmu dan beradab, serta menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Teladan yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah bukan hanya membentuk karakter santri, tetapi juga menyalakan cahaya kebaikan di masyarakat. Dari tangan-tangan mereka lahir para penghafal Al-Qur’an, para da’i, dan generasi penerus yang siap membawa perubahan.
Baca Artikel Lainnya : Suasana Belajar di Taman Pendidikan Al Qur’an Nitikan yang Penuh Kebersamaan
Maka sudah sepatutnya kita menghargai dan mendoakan para ustadz dan ustadzah mereka yang dengan sabar, ikhlas, dan istiqamah mengabdi untuk mencerdaskan umat melalui Al-Qur’an.
Mereka adalah pelita di tengah gelapnya zaman, dan melalui merekalah, cahaya Al-Qur’an akan terus hidup di hati umat Islam.
Oleh : Tim Media dan Informasi – Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta