Info Kami
Senin, 01 Des 2025
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani"
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani"
17 November 2025

KU3 : Ketulusan Mengajar : Rahasia Sukses Para Ustadz dan Ustadzah

Sen, 17 November 2025 Dibaca 86x

Penulis : Ustadzah Annisa Noor Rahmah

Di tengah perubahan dalam dunia pendidikan, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) tetap menjadi tempat yang paling hangat untuk anak-anak belajar mengenai Al-Qur’an dan nilai-nilai kebaikan. Peran ustadz dan ustadzah di TPA tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dalam pembelajaran di TPA tidak hanya tergantung pada metode atau alat yang digunakan, tetapi juga pada niat yang tulus, keikhlasan, dan semangat pengabdian tanpa pamrih.

Artikel ini membahas bagaimana ketulusan menjadi dasar penting dalam kesuksesan proses belajar mengajar di TPA.

Ketulusan dalam Perspektif Pendidikan Islam

Dalam Islam, ketulusan atau ikhlas merupakan prinsip utama dalam setiap perbuatan.Dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5, Allah menegaskan bahwa semua amalan, termasuk mengajar Al Qur’an, harus dilakukan dengan niat yang lurus karena Allah. Dalam konteks TPA, ikhlas berarti mengajar bukan karena materi atau status, tetapi karena keinginan untuk menyebarkan cahaya Al-Qur’an.

Ulama seperti Al-Ghazali menyatakan bahwa ikhlas merupakan inti dari pendidikan yang bernilai. Tanpa ikhlas, ilmu hanya menjadi transfer informasi, bukan cahaya yang menyentuh hati santri.

Peran Ketulusan dalam Keberhasilan Ustadz/Ustadzah TPA

  1. Menciptakan Suasana Belajar yang Hangat : Santri TPA biasanya datang setelah sekolah formal, sehingga mereka membutuhkan suasana yang ramah dan perhatian.Ustadz/ustadzah yang mengajar dengan tulus biasanya lebih sabar, ramah, dan peka terhadap kebutuhan anak. Hal ini membuat anak merasa nyaman dan lebih semangat belajar.
  2. Menumbuhkan Kedisiplinan Tanpa Pemaksaan :Ketulusan menghadirkan contoh yang baik. Ketika ustadz/ustadzah menunjukkan sikap yang konsisten dan tulus, santri akan meniru. Disiplin muncul bukan karena hukuman, tetapi karena rasa hormat dan cinta.
  3. Menguatkan Hubungan Guru dan Santri: Ikhlas menciptakan rasa percaya. Santri lebih menyukai guru yang sabar dan tidak mudah marah. Hubungan yang baik memudahkan guru memberi motivasi dan bimbingan agar anak memahami bacaan Al-Qur’an dengan lebih baik
  4. Menghadirkan Keberkahan dalam Pembelajaran: Dalam pendidikan Al-Qur’an, keberhasilan bukan hanya terlihat dari banyaknya halaman yang dihafal, tetapi dari perubahan sikap dan akhlak.Ketulusan guru dianggap sebagai sumber keberkahan: anak-anak lebih mudah menghafal, lebih mudah diarahkan, dan suasana TPA terasa lebih rukun.

Dampak Ketulusan Mengajar terhadap Santri

Meningkatkan Motivasi Belajar

Anak-anak mudah merasakan perasaan guru. Ketika guru datang dengan senyum, kesabaran, dan memberi perhatian, semangat belajar anak akan otomatis meningkat.

Meningkatkan Perkembangan Akhlak

Dalam pembelajaran Al-Qur’an, nilai-nilai moral tidak hanya diajarkan, tetapi juga dicontohkan. Guru yang tulus selalu menampilkan sikap baik setiap hari, sehingga anak belajar melalui contoh.

Santri Merasa Diperhatikan

Ketulusan membuat ustadz/ustadzah lebih memperhatikan perbedaan karakter anak. Ada yang cepat belajar, ada yang lambat. Ada yang membutuhkan pujian, ada yang butuh dukungan. Perhatian pribadi ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai

Strategi Menanamkan Rasa Tulus dalam Mengajar TPA

  • Meluruskan Niat Sebelum Mengajar: Sering kali buka kegiatan dengan berdoa dan tegaskan niat: mengajar Al-Qur’an adalah bentuk ibadah.
  • Memperbanyak Dzikir dan Tadabbur : Kuatnya spiritualitas membantu guru tetap tenang, sabar, dan tidak mudah lelah menghadapi anak-anak.
  • Membiasakan Komunikasi Empati: Rasa tulus terlihat dari cara berbicara: lembut, jelas, dan tidak merendahkan anak
  • Menjaga Konsistensi : Tulus bukan berarti tidak boleh lelah, tetapi memiliki komitmen untuk tetap hadir, mendampingi, dan terus memperbaiki diri.
  • Menggunakan Metode Belajar yang Menyenangkan : Rasa tulus juga terlihat dari usaha guru membuat pembelajaran lebih kreatif agar anak tidak merasa terbebani.

Mengajar dengan tulus adalah rahasia keberhasilan para ustadz dan ustadzah dalam membimbing santri TPA. Rasa tulus mampu menciptakan suasana belajar yang hangat, memperkuat hubungan antara guru dan santri, serta membawa keberkahan yang langsung memengaruhi perkembangan akhlak dan kemampuan membaca Al-Qur’an. Di tengah era modern yang penuh dengan kesibukan dan distraksi, rasa tulus adalah cahaya yang menjaga TPA tetap menjadi tempat belajar yang suci dan bermakna.

 

Referensi:

  • Al-Ghazali. (2005). Ihya’ Ulumuddin (Vol. 3). Pustaka Amani.
  • Asmani, J. M. (2011). Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Diva Press.
  • Hasanah, U. (2019). Keteladanan guru sebagai metode pendidikan karakter di lembaga pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 145–156. https://doi.org/10.24042/ajpi.v8i2.4421
  • Mubarak, Z. (2017). Urgensi keikhlasan dalam pendidikan Islam. Jurnal Kajian Keislaman, 5(1), 21–32.
  • Nata, A. (2016). Pendidikan Islam dan Tantangan Modernitas. RajaGrafindo Persada.
  • Suyadi, & Widodo, H. (2020). Revolusi Pendidikan Islam. Rajawali Press.
  • Zakaria, F. (2021). Hubungan kompetensi pedagogik dan kepribadian guru dengan prestasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 6(1), 55–65.

 

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart