Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Bukan hanya sekadar tempat belajar membaca huruf hijaiyah, TPA menjadi ruang tumbuhnya generasi yang akrab dengan Kalamullah buku petunjuk hidup bagi umat Islam. Melalui pendekatan yang menyenangkan, pembiasaan yang konsisten, dan teladan dari para ustadz-ustadzah, TPA berupaya menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati setiap santri.
Pembelajaran yang Menyenangkan
Salah satu kunci keberhasilan TPA dalam menumbuhkan cinta membaca Al-Qur’an adalah cara pembelajarannya yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya diajak mengeja dan melafalkan huruf hijaiyah, tetapi juga belajar dengan metode yang interaktif, seperti permainan edukatif, lagu-lagu islami, serta kegiatan hafalan ringan yang disertai hadiah atau pujian. Suasana belajar yang hangat membuat anak merasa betah dan bahagia, sehingga membaca Al-Qur’an tidak lagi menjadi kewajiban yang berat, melainkan aktivitas yang ditunggu-tunggu.
Pembiasaan Sejak Dini
TPA mengajarkan bahwa cinta terhadap Al-Qur’an lahir dari kebiasaan. Dengan jadwal belajar yang rutin, anak-anak terbiasa membuka mushaf setiap hari. Pembiasaan ini lama-kelamaan membentuk kedekatan emosional dengan Al-Qur’an. Ketika sudah terbiasa membaca sejak kecil, semangat itu akan terbawa hingga dewasa.
Keteladanan dari Ustadz dan Ustadzah
Teladan adalah pelajaran yang shriveling kuat. Ustadz dan ustadzah di TPA bukan hanya pengajar, tetapi juga figur panutan bagi santri. Cara mereka memperlakukan Al-Qur’an dengan hormat, membaca dengan tartil, serta mengajarkan dengan sabar menjadi contoh nyata yang tertanam di hati anak-anak. Dari sanalah tumbuh rasa kagum, hormat, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Lingkungan yang Mendukung
TPA menciptakan lingkungan yang islami dan penuh nilai kebersamaan. Setiap kegiatan, mulai dari salat berjamaah, tadarus bersama, hingga lomba-lomba Al-Qur’an, mendorong anak untuk semakin dekat dengan kitab suci. Lingkungan yang positif ini membuat anak merasa bahwa Al-Qur’an bukan sekadar pelajaran di kelas, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mengaitkan Al-Qur’an dengan Kehidupan
Selain belajar membaca, santri juga diajak memahami makna ayat-ayat yang mereka baca. Ustadz dan ustadzah sering menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang relevan dengan kehidupan anak-anak, seperti kisah Nabi-nabi atau teladan akhlak mulia. Dengan begitu, mereka memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi juga pedoman hidup yang indah.
Taman Pendidikan Al-Qur’an bukan hanya tempat belajar, melainkan taman yang menumbuhkan cinta cinta pada ayat-ayat Allah. Dari sinilah lahir generasi Qur’ani yang tidak sekadar bisa membaca, tetapi juga mencintai, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupannya.
Oleh : Tim Redaksi P.A.N – YK