
EDISI 12 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta
Manusia kerap kehilangan kesadaran diri ketika berada di puncak keberhasilan, dan mudah mengeluh saat menghadapi ujian. Nikmat yang dianugerahkan Tuhan sering terabaikan, sementara sifat egois justru muncul ke permukaan. Tidak jarang kita lalai untuk menumbuhkan sikap syukur dan sabar atas setiap karunia maupun cobaan dari Allah Swt. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita membiasakan diri berperilaku sabar dan bersyukur dalam kehidupan sehari-hari.
Sabar berarti kemampuan menahan diri, sedangkan syukur adalah bentuk ungkapan terima kasih kepada Allah Swt atas segala nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya. Kedua sikap ini saling berhubungan: sabar menjadi kekuatan yang membentuk jiwa yang kokoh dan stabil, sementara syukur menumbuhkan kerendahan hati. Keduanya merupakan sifat positif yang membantu seorang muslim untuk senantiasa mengingat Allah Swt dalam setiap keadaan.
Baca Buletin E11 : Relevansi Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin di Tengah Krisis Moral Pemimpin Modern
Allah menghadirkan berbagai kondisi kehidupan agar manusia menggunakan akal untuk mencari penyelesaian suatu persoalan dengan cara yang paling diridai-Nya. Sabar memiliki kedudukan penting dalam menjalani kehidupan di dunia sehingga Allah dan Rasul-Nya memberikan banyak keutamaan bagi orang yang bersabar. Demikian pula syukur, yang menjadi pengingat atas limpahan nikmat yang telah Allah karuniakan. Sabar dan syukur adalah dua hal yang sangat indah dalam kehidupan.
Namun, pada era modern seperti sekarang, kita sering menyaksikan banyak orang yang justru mencela bahkan menyalahkan Tuhannya atas musibah yang menimpanya. Padahal, semua itu bukanlah kekeliruan Tuhan, melainkan ketidakmampuan kita sendiri dalam mengelola rasa sakit dan penderitaan yang dialami. Sabar menjadi senjata paling ampuh bagi siapa pun yang sedang diuji. Ia juga menjadi sumber keluasan hati serta langkah penting untuk mencapai tujuan hidup.
Allah SWT Berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Allah Swt. menggambarkan tentang orang-orang yang sabar dengan berbagai sifat. Dalam Al-Qur’an kata ‘sabar’ di sebutkan lebih dari tujuh puluh empat (74) kali. Allah Swt. juga banyak mengaitkan masalah-masalah derajat dan kebaikan dengan sebab sabar, serta menjadikan derajat-derajat dan kebaikan-kebaikan itu sebagai buah kesabaran.
Makna Sabar
Kesabaran merupakan salah satu unsur terpenting dalam spiritualitas Islam.Secara etimologis, kata sabarberasal dari bahasa Arabṣabara–yaṣbiru–ṣabran yang berartimenahan diri. Secara terminologis, sabar dipahami sebagai kemampuan menahan diri ketika menghadapi berbagai cobaan, tidak mudah marah, tidak cepat putus asa, serta tidak larut dalam kekecewaan.
Ada pula yang memaknai sabar sebagai sikap tenang, baik dalam pikiran maupun perasaan. Kesabaran memberikan dorongan bagi manusia untuk menjauhi tindakan buruk, melakukan kebaikan, serta menjadi kekuatan yang menjaga seseorang dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam pandangan para sufi, sabar berarti keteguhan dalam menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi seluruh larangan-Nya, serta menerima setiap ujian dengan hatiyangikhlas. Amr bin Utsman juga menjelaskan bahwa sabar adalah sikap yang senantiasa mengingat Allah Swt. sambil menerima cobaan dengan kelapangan hati. Sementara itu, dalam perspektif tasawuf, sabar dipahami sebagai ketekunan dalam beribadah dan upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam Al-Qur’an, konsepsabar menunjukkanbahwa orang beriman dianjurkanuntuk menegakkan shalat, karena ibadah tersebut membantu menumbuhkan sikap sabar dan memperkuat kesadaran spiritual.
Baca Buletin E3: Syarat Lahiriyah dan Adab Batiniyah Dalam Menuntut Ilmu
Ulama membagi sabar menjadi tiga bentuk utama:
Makna Syukur
Secara bahasa, syukur berasal dari kata syakara–yasykuru – syukran, yang berarti memuji, mengapre-siasi, atau berterima kasih. Dalam kajian Islam, syukur dimaknai sebagai pengakuan atas nikmat Allah Swt. yang diwujudkan melalui hati, lisan, dan tindakan. Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa syukur mencakup tiga unsur:
Syukur bermula darikesadaran hati bahwa seluruh nikmat yang kita miliki tidak pernah hadir secara kebetulan. Kesehatan, rezeki, kesempatan belajar, kemampuan bekerja, keluarga, bahkan kemampuan bernapasadalah karunia yang berasal dari Allah Swt. Kesadaran ini membuat manusia memahami posisinya sebagai hamba yang tidak memiliki kuasa atas apa pun selain yang dianugerahkan oleh Allah. Dari sinilah muncul rasa rendah hati, rasa cukup, dan penerimaan terhadap ketentuan-Nya. Hati yang dipenuhi syukur terhindar dari penyakit batin seperti iri, dengki, dan keluh kesah, karena ia melihat segala sesuatu sebagai bagian dari kasih sayang Allah.
Dalam perilaku, syukur terwujud melalui pemanfaatan nikmat secara benar sesuai dengan tujuan Allahmenciptakannya. Orang yang diberikan ilmu bersyukur dengan mengajarkannya; orang yang diberi harta bersyukur denganberbagi dan membantu sesama; orang yang diberi kekuatan fisik bersyukur dengan melaksanakan ibadah; dan orang yang diberi waktu bersyukur dengan tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bernilai. Dengan demikian, syukur menjadi pedoman moral yang mengarahkan manusia untuk menggunakan setiap potensi dan nikmat secara bermakna.
Tingkatan syukur dibagi menjadi 3 yaitu:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim 7)
Sabar memiliki kedudukansangatmuliadalam Islam. Allah Swt. menyebutkata sabarlebih dari 74 kali dalam Al-Qur’an, menandakan betapa pentingnyakedudukan sabar dalam kehidupan manusia.
Keutamaan Sabar dan Syukur
Allah SWT Berfirman :
Ketuamaan sabar dalam Al-Qur’an dan Sunnah
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ (155) اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ (156) اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَ
Artinya : “(155) Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155–157).
Baca Artikel : Membangun Generasi Qur’ani: Peran Sentral Metode Iqro dalam Pendidikan Al-Qur’an
Bahkan, sabar disebut sebagai sebab kemenangan dan kemuliaan
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوااصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Ali Imran 200)
Sabar merupakan salah satu sifat utama yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Nilai sabar tidak hanya dipandangsebagai sikapmenahan diri atas kesulitan, tetapi juga sebagai landasan spiritual yang menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah Swt. Al-Qur’an menyebutkankata ṣabr dan turunannya lebih dari tujuh puluh kali, menunjukkan bahwa kesabaran merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam. Allah Swt. mengaitkan sabar dengan berbagai bentuk kemuliaan, kebaikan, dan derajat tinggi yang tidak diberikan kepada sembarang hamba kecuali mereka yang mampu menjaga konsistensi kesabaran dalam setiap keadaan.
Rasullallah Bersabda : “Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas yang diberikan Allah kepada hamba-Nya selain kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Syukur dalam Kehidupan Spiritual
Syukur juga memiliki nilai sangat agung. Allah Swt. menjanjikan penambahan nikmatbagi orang-orang yang bersyukur (QS. Ibrahim: 7), dan menjelaskan bahwa sedikit sekali hamba-Nya yang benar-benar mampu bersyukur (QS. Saba’: 13). Syukur menjaga hati dari kesombongan, menumbuhkan ketenangan jiwa, serta menjadi wujud pengakuan atas keagungan Allah Swt. Syukur merupakan salah satu pilar utama dalam kehidupan spiritual seorang muslim dan menjadi fondasi penting dalam hubungan antara hamba dengan Allah Swt. Syukur bukan sekadar ucapan lisan berupa pujian dan rasa terima kasih, melainkan kondisi batin yang mencerminkan kesadaran mendalam akan segala nikmat yang Allah anugerahkan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dalam perspektif spiritual Islam, syukur adalahekspresi penghambaan yang mencakup pengakuan hati, ucapan lisan, dan pengamalan nyata melalui perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Syukur menjadikan seseorang mampu melihat dunia dengan kacamata ketawaduan, memahami bahwa semua kebaikan dan kemudahan yang diterimanya bukan buah kekuatan dirinya semata, tetapi semata-mata karena kasih sayang dan karunia Tuhan.
Baca Berita terbaru : Membanggakan! Empat Ustadz dan Ustadzah Pendidikan Al Qur’an Nitikan Raih Gelar Sarjana dan Magister di UIN Sunan Kalijaga
Hubungan Sabar dan Syukur
Para ulama sering menyebut sabar dan syukur sebagai “dua sayap seorang mukmin”. Keduanya membentuk keseimbangan spiritual: sabar menjadi pegangan saat diuji, dan syukur menjadi pedoman saat menerima nikmat. Seseorang yang mampu menerapkan keduanya akan memiliki kepribadian yang matang, stabil, dan dekat dengan Allah Swt. Sabar dan syukur merupakan dua nilai utama dalam spiritualitas Islam yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya hadir sebagai pasangan yang melengkapi perjalanan hidup manusia dalam menghadapi dinamika dunia yang penuh dengan ujian dan nikmat. Dalam banyakayat Al-Qur’an dan penjelasan para ulama, sabar dan syukur dipandangsebagai dua sayap yang membawa seorang hamba menuju kedewasaan iman. Tanpa salah satunya, keseimbangan spiritualakan goyah, karena sabar memampukan seseorang bertahan ketika diuji,sedangkan syukur menuntunnya untuk tetap rendah hati ketika diberi kelapangan. Dua sikap ini membentuk pola hidup yang stabil, seimbang, dan penuh kesadaran terhadap peran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Oleh : Muhammad Labieb Tsaqifuddin || Pengajar Aktif Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta || Wakil Kepala Bagian Media dan Informasi || Pimpinan redaksi Buletin Ar-Radhah
Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)
Referensi