
EDISI 13 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta
Di tengah tekanan sosial dan pesatnya perkembangan teknologi digital, kesehatan mental sangatlah penting. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang disebut Strawberry Generation, yakni generasi muda yang tumbuh di era media sosial dan biasanya dianggap lebih rapuh secara emosional. Menurut data, lebih dari 31 juta orang di Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, 12 juta diantaranya menderita depresi dan 19 juta mengalami gangguan emosional. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental bukanlah masalah individu, melainkan fenomena sosial.
Baca Buletin E11 : Relevansi Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin di Tengah Krisis Moral Pemimpin Modern
Dalam buku higiene mental, kesehatan mental didefinisikan sebagai seseorang yang mampu mengatur cara hidupnya, memahami bagaimana orang lain melihatnya, dan membuat keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Menurut Zakiah Daradjat, kesehatan mental adalah keserasian yang nyata antara fungsi-sungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan lingkungannya, berdasarkan iman dan keatkwaan, dengan tujuan mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Lebih lanjut, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), kesehatan mental adalah kondisi atau keadaan diri dimana seseorang menyadari potensinya, mamou mengatasi tekanan hidup, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitasnya. Dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah kondisi atau keadaan diri dimana seseorang siap menjalani kehidupan sesuai batas kemampuan mereka dengan pikiran, emosi, dan spiritualitas yang seimbang. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang menyadari bahwa kesehatan seseorang tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga kestabilan pikiran dan perasaan.
Dalam kehidupan seorang muslim menjaga mental adalah salah satu aspek penting karena menentukan cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup telah memberikan banyak arahan tentang bagaiaman menjaga Kesehatan mental melalui keimanan, ketenangan hati, serta hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia. Istilah al-Qur’an Shalihun li kulli zaman wa makan agaknya cocok untuk menegaskan bahwa al-Qur’an hadir untuk memberikan jawaban atas tantangan umat manusia di tengah tekanan hidup dan pesatnya teknologi.
Baca Artikel Lainnya : KU 04 : Cara Ustadz dan Ustadzah Menanamkan Akhlaq
Islam sendiri memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia secara keseluruhan. Ajaran Islam memberikan panduan tentang bagaimana seorang muslim dapat menjaga kesehatan mental melalui keimanan, praktik-praktik ibadah, nilai moral, dan berbagai petunjuk hidup yang membantu menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memperkuat iman, mendekatkan diri kepada Allah, dan menjaga keharmonisan spiritual, mental dan fisik, seorang muslim dapat mencapai kesehatan mental yang ideal sesuai dengan apa yang diajarkan Islam. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang membahas tentang ketenangan hati, kekuatan menghadapi ujian, dan cara membersihkan hati. Semua ini meningkatkan kesadaran bahwa kesehatan mental bukan hanya masalah fisik, tetapi juga masalah spiritual. Al-Qur’an sendiri menekankan bahwa ketenangan hati adalah komponen penting dari kesehatan mental, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 28, yang berbunyi:
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Ayat ini menunjukkan bahwa berdzikir, membaca al-Qur’an adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang membantu meredakan stress di tengah tekanan kehidupan modern. Hubungan spiritual yang kuat adalah bagian penting dari kesehatan mental. Ektika hati tenang, seseorang lebih mampu menghadapi tantangan dengan optimis. Keimanan memberikan ketenangan batin yang sangat dibutuhkan seseorang merasakanKeimanan memberikan ketenangan batin yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan mental.
Artikel Lainnya di : Membangun Generasi Qur’ani: Peran Sentral Metode Iqro dalam Pendidikan Al-Qur’an
Selain itu, ayat ini juga menegaskan bahwa Allah mengetahui kondisi jiwa manusia. Ketenangan hati menjadi salah satu metode penyembuhan mental, karena rasa khawatir, takut, dan gelisah dapat berkurang manakala seseorang merasa dekat dengan Sang Pencipta. Bentuk dzikir seperti bacaan tasbih, tahmid, takbir, istighfar, serta membaca al-Qur’an adalah cara agar selalu mengingat kepada Allah, sehingga hati lebih damai dan pikiran lebih tertata.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga tubuh dan kehidupan duniawi. Al-Qur’an shalihun li kulli zaman wa makan adalah petunjuk yang relevan sepanjang masa untuk mengatasi masalah hidup, dimana pun dan kapan pun. Islam mengajak kita untuk memperbanyak dzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an dan memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam hidup. Semoga kita semua dapat menjadikan ajaran Islam sebagai sumber ketenangan, kekuatan, dan penyembuhan. Dan semoga generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih kuat secara mental. Spiritual dan bijaksana dalam menghadapi tantangan zaman. Terakhir, semoga Allah senantiasa menjaga hati kita, menenangkan pikiran, dan menguatkan langkah kita dalam menjalani kehidupan. Aamiin.
Oleh : Hidayatul Ilmiyah || Pengajar Aktif Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta || Wakil Kepala Bagian Pengajaran || Wali Kelas TQA
Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)