Info Kami
Senin, 01 Des 2025
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani"
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani"
31 Oktober 2025

Buletin E9 || Reaktualisasi Kepemimpinan Islam di Era Modern: Membangun Integritas dan Akhlak Pemimpin Muslim

Jum, 31 Oktober 2025 Dibaca 129x Buletin

EDISI 9 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Kepemimpinan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Sejak awal sejarah peradaban, masyarakat membutuhkan figur yang mampu mengatur, mengarahkan, dan menjaga stabilitas sosial. Salah satu komponen paling penting dalam setiap masyarakat dan organisasi adalah kepemimpinan, yang memainkan peran penting dalam menentukan jalan dan keberhasilan suatu organisasi.

Dalam Islam, kepemimpinan (imamah atau khilafah) tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan politik, tetapi merupakan amanah ilahiyah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Kepemimpinan menjadi faktor utama yang menentukan arah kemajuan umat. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menjadi model ideal karena beliau tidak hanya berperan sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing spiritual, dan teladan akhlak. Setelah beliau wafat, para Khulafaur Rasyidin melanjutkan tradisi kepemimpinan berbasis nilai-nilai keadilan, amanah, dan keikhlasan. Oleh karena itu, memahami konsep pemimpin ideal dalam pandangan Islam menjadi penting untuk melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas secara moral dan spiritual.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di era modern, dunia menghadapi krisis kepemimpinan yang kompleks. Banyak pemimpin kehilangan arah moral dan spiritual, sehingga kekuasaan sering disalahgunakan demi kepentingan pribadi. Fenomena ini menunjukkan pentingnya reaktualisasi nilai-nilai kepemimpinan Islam yang berakar pada integritas, keadilan, dan akhlak mulia. Islam menawarkan paradigma kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan ambisi. Oleh karena itu, menggali kembali nilai-nilai kepemimpinan Islam menjadi sangat relevan untuk melahirkan pemimpin Muslim yang berintegritas dan berakhlak di tengah tantangan globalisasi.

Baca Juga : Buletin E8 || Santri Hebat Penerang Umat

Konsep Kepemimpinan dalam Islam

Dalam Islam, kepemimpinan dipahami sebagai bagian dari amanah yang diberikan Allah kepada manusia untuk memakmurkan bumi. Al-Qur’an menegaskan:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab moral dan spiritual dalam mengelola kehidupan sosial. Kepemimpinan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan sarana untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan. Ulama klasik seperti Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa pemimpin sejati harus memenuhi beberapa kriteria utama: adil, berilmu, amanah, kuat, dan bijaksana. Prinsip-prinsip ini menegaskan bahwa kekuasaan dalam Islam bukan sekadar hasil legitimasi politik, tetapi harus dibangun di atas fondasi moral dan etika.

Kepemimpinan yang sejati harus berlandaskan nilai amanah, yakni tanggung jawab yang dijalankan dengan jujur, serta keadilan, yaitu kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya tanpa diskriminasi. Hal ini menunjukkan dua nilai pokok kepemimpinan Islam (amanah dan keadilan) yang menjadi dasar bagi integritas pemimpin Muslim. Integritas dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari akhlak. Keduanya merupakan refleksi keimanan dan ketakwaan seseorang. Pemimpin yang berintegritas adalah mereka yang konsisten antara ucapan dan perbuatan, menjunjung kejujuran, serta tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama kepemimpinan berintegritas. Sejak muda, beliau dikenal sebagai al-Amin (yang dapat dipercaya). Ketika memimpin masyarakat Madinah, beliau menunjukkan akhlak mulia melalui keadilan, kesabaran, dan kasih sayang terhadap umatnya. Kepemimpinan tanpa akhlak akan kehilangan arah moral. Dalam konteks modern, banyak pemimpin yang cerdas secara intelektual tetapi gagal menjaga moralitas publik. Karena itu, akhlak merupakan pilar utama agar seorang pemimpin tidak tergelincir dalam penyalahgunaan wewenang. Akhlak juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang bersih dan berkeadilan.

Baca tentang : Peran taman pendidikan Al-Qur’an dalam membentuk generasi Qur’ani 

Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW mencerminkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, strategi dan spiritualitas, serta kekuasaan dan pelayanan. Beliau tidak memerintah dengan otoriter, melainkan melalui musyawarah dan teladan. Musyawarah menunjukkan prinsip demokratis dalam Islam yang menempatkan rakyat sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Nabi SAW juga menunjukkan empati terhadap rakyat kecil dan selalu hidup sederhana, menolak kemewahan yang bisa menjauhkan dirinya dari rakyat. Dalam konteks modern, keteladanan Nabi SAW menjadi inspirasi bagi pemimpin Muslim untuk menegakkan nilai rahmatan lil ‘alamin — kepemimpinan yang membawa kasih sayang, keadilan, dan kesejahteraan bagi semua.

Reaktualisasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Islam di Era Modern

Reaktualisasi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Islam agar kontekstual dengan perkembangan zaman. Dalam era modern yang diwarnai kemajuan teknologi dan globalisasi, banyak nilai moral kepemimpinan yang mulai luntur. Tantangan seperti korupsi, hedonisme, dan politik transaksional menjadi ancaman bagi integritas pemimpin. Islam memberikan solusi melalui reaktualisasi prinsip:

  • Amanah, dengan menempatkan kekuasaan sebagai tanggung jawab, bukan hak istimewa. Kepemimpinan sebagai Tanggung Jawab, Al-Quran mengatakan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Pemimpin harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan karena mereka dianggap sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi. Dalam ayat-ayat seperti Surah AlBaqarah (2.30), manusia digambarkan sebagai khalifah di bumi, bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara ciptaan Allah dengan baik.
  • Keadilan, dengan menjamin hak semua golongan tanpa diskriminasi. Keadilan adalah ciri utama pemimpin ideal dalam Islam. Al-Quran menggarisbawahi betapa pentingnya keadilan dalam kepemimpinan. Sebagai contoh, Al-Quran mengatakan dalam Surah Al-Hujurat (49:9) bahwa pemimpin harus memutuskan perselisihan dengan cara yang adil dan merata. Ini menunjukkan bahwa para pemimpin Islam harus bertindak dengan adil dan tidak memihak kepada satu pihak.
  • Bijaksana, dengan melibatkan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan. Bijaksana dan Berhikmah: Dalam Al-Quran, seorang pemimpin harus bijaksana dan berhikmah saat membuat keputusan. Dia akan mempertimbangkan apa yang dia lakukan dan mencari cara terbaik untuk membantu umatnya. Seperti yang disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran, pemimpin yang berhikmah dianggap sebagai anugerah Allah.
  • Pelayanan (khidmah), dengan menjadikan kepemimpinan sebagai sarana mengabdi kepada rakyat. Pemimpin Islam diharapkan melayani umatnya. Seorang pemimpin harus memperhatikan kebutuhan rakyatnya, mendengarkan keluhan mereka, dan mencari kesejahteraan mereka; kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan atau kendali. Banyak tindakan dan ucapan Nabi Muhammad SAW mencerminkan ide ini.

Nilai-nilai ini dapat diintegrasikan dalam sistem pemerintahan modern, baik dalam birokrasi, lembaga publik, maupun organisasi sosial. Seorang pemimpin Muslim harus mampu menyeimbangkan antara profesionalitas dan spiritualitas, antara rasionalitas dan moralitas. Dengan demikian, kepemimpinan Islam bukan konsep masa lalu, tetapi panduan etis bagi kepemimpinan masa depan. Di tengah krisis kepemimpinan global, reaktualisasi kepemimpinan Islam memiliki urgensi besar.

Baca Editorial: Efektivitas Belajar Mengaji di Sore Hari: Membangun Generasi Qur’ani Sejak Dini

Dunia membutuhkan model kepemimpinan yang menekankan etika, empati, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar kekuasaan dan popularitas. Kepemimpinan yang berlandaskan Islam menawarkan paradigma alternatif bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa besar kekuasaannya, melainkan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada rakyat. Pemimpin yang berakhlak dan berintegritas akan menjadi sumber stabilitas sosial, membangun kepercayaan publik, dan menggerakkan perubahan menuju keadilan sosial.

Kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah besar yang menuntut tanggung jawab spiritual, moral, dan sosial. Di tengah tantangan zaman modern yang sarat dengan krisis integritas dan moralitas, reaktualisasi nilai-nilai kepemimpinan Islam menjadi kebutuhan mendesak. Nilai-nilai amanah, keadilan, musyawarah, dan akhlak mulia harus kembali menjadi roh dalam setiap praktik kepemimpinan. Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan dan pengabdian.

Oleh karena itu, pemimpin Muslim masa kini hendaknya menjadikan Islam bukan sekadar identitas, tetapi sumber etika dan inspirasi dalam setiap kebijakan. Hanya dengan menghidupkan kembali nilai-nilai kepemimpinan Islam yang berlandaskan integritas dan akhlak, umat dapat melahirkan generasi pemimpin yang mampu membawa masyarakat menuju kemajuan yang berkeadilan, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.


Oleh : Dannizar Azka Taftazani Arsal, S.H|| Ustadz Aktif Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta || Wakabag. Pengajaran|| Walikelas TKAL

Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)


Referensi:

  • Kurniawan, et. al. “Konsep Kepemimpinan Dalam Islam”, Produ: Prokurasi Edukasi Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 2:1, (2020).
  • Hafulyon, H, “Keragaman Konsep Kepemimpinan Dalam Organisasi”, JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah), Vol. 11:2, 2018.
  • Sukatin, et al, “Konsep Kepemimpinan Pendidikan Islam”. Deepublish. (2023)

Penanggung Jawab: Abdu Salafush Sholihin, M.H.

Pimpinan Umum: Abdul Latif, S.Kom.

Pimpinan Redaksi: M. Labieb Tsaqifuddin.

Tim Redaksi : Tim S.I.M.P.A.N-YK

Sekretaris: Tim Media

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart