Oleh : Tim Redaksi *)
Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, pendidikan akhlak menjadi kebutuhan utama bagi generasi muda. Lembaga pendidikan Al-Qur’an (TKA atau TPA) memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri agar tumbuh sebagai pribadi beriman, beradab, dan berakhlak mulia. Di sinilah peran ustadz dan ustadzah menjadi sangat vital. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan hidup yang menanamkan nilai-nilai Akhlaq Qur’ani dalam setiap aspek kegiatan belajar.
Akhlaq Qur’ani bukan sekadar teori, melainkan karakter yang dibangun dari pemahaman, pengamalan, dan keteladanan. Melalui pendekatan yang penuh hikmah, ustadz dan ustadzah mampu menghadirkan suasana pendidikan yang lembut, inspiratif, dan mengakar kuat pada ajaran Islam.
Metode paling efektif dalam pendidikan akhlak adalah teladan. Santri lebih mudah meniru daripada sekadar mendengar nasihat.
Ustadz dan ustadzah menunjukkan akhlaq Qur’ani melalui:
Metode ini sejalan dengan firman Allah:
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Keteladanan membuat santri merasakan bahwa akhlaq Qur’ani itu nyata dan bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca Al-Qur’an memang penting, tetapi memahami makna dan pesan moralnya jauh lebih berdampak dalam pembentukan karakter.
Ustadz/ustadzah:
Dengan demikian, santri memahami bahwa Al-Qur’an adalah “kitab kehidupan”, bukan hanya bacaan.
Pembiasaan (habituation) adalah metode yang sangat efektif untuk melatih karakter.
Beberapa pembiasaan yang dilakukan ustadz/ustadzah:
Pembiasaan ini membuat nilai-nilai Qur’ani menjadi kebiasaan otomatis dalam diri santri.
Rasulullah SAW selalu mendidik dengan kelembutan. Pendidikan yang keras hanya melahirkan kepatuhan semu.
Ustadz/ustadzah mengajarkan akhlaq dengan cara:
Metode ini menumbuhkan kedekatan emosional sehingga santri mudah menerima arahan.
Kisah para Nabi, sahabat, dan tokoh-tokoh umat menjadi sarana efektif untuk menanamkan akhlaq.
Contoh:
Melalui cerita, santri lebih mudah membayangkan dan meniru nilai-nilai akhlak tersebut.
Akhlaq Qur’ani lahir dari hati yang bersih dan dekat dengan Allah.
Karena itu ustadz/ustadzah membiasakan:
Pembinaan spiritual memperkuat karakter batin santri agar tumbuh menjadi pribadi yang lembut dan bertakwa.
Akhlaq Qur’ani sangat menekankan prinsip amanah dan tanggung jawab.
Ustadz/ustadzah melatih santri melalui:
Ketika terbiasa menjaga amanah kecil, santri akan mampu mengemban amanah besar ketika dewasa.
Lingkungan juga membentuk karakter. Oleh karena itu, para ustadz/ustadzah berupaya menciptakan suasana belajar yang:
Santri belajar bahwa akhlaq bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga dalam membangun lingkungan yang baik bagi orang lain.
Menanamkan akhlaq Qur’ani kepada santri adalah tugas mulia yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan konsistensi. Ustadz dan ustadzah memegang peranan penting sebagai pembimbing ruhani generasi muda yang akan menjadi penerus umat. Dengan pendekatan yang lembut, pembiasaan yang berkelanjutan, serta keteladanan yang nyata, nilai-nilai Al-Qur’an dapat hidup dalam diri setiap santri dan melahirkan generasi berakhlak mulia.