
EDISI 10 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta
Istilah al-umm atau madrasatul ula atau ibu adalah sekolah pertama sering kali menjadi tema sentral dalam berbagai kajian keagamaan. Konsep ini bukan sekedar ungkapan puitis sebagai bentuk penghormatan, melain kan sebagai konsep strategi yang secara fundamental menempatkan perempuan sebagai pondasi utama bagi tegaknya peradaban. Ditengah tantangan kontemporer dan derasnya arus informasi yang kompleks, pemahaman ulang terhadap peran vital ini menjadi sangat mendesak dan krusial demi menjamin masa depan generasi yang berkualitas.
Peradaban yang kokoh tidak hanya diukur dari kemegahan infrastruktur dan gedung pencakar langit, melainkan juga ditentukan oleh kualitas karakter dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusianya. Dalam konteks inilah, perempuan menempati peran sentral sebagai pendidik utama dan pertama. Jauh sebelum seorang anak memasuki lembaga pendidikan formal, ibulah yang memegang tanggung jawab fundamental untuk menanamkan dasar-dasar tauhid (keyakinan), adab (etika), dan kecintaan terhadap ilmu pada masa usia dini. Oleh karena itu, seorang ibu bukan sekadar pengasuh (hadinah), melainkan seorang murabbi (pendidik dan pembimbing) yang secara langsung membentuk ‘cetak biru’ karakter dasar seorang anak. Kualitas dan fondasi pendidikan yang diberikan di lingkungan rumah inilah yang menjadi penentu utama terhadap kokoh atau rapuhnya peradaban generasi di masa depan.
Peran perempuan sebagai penjaga semangat belajar dan obor intelektual bukanlah teori semata, sejarah emas Islam telah membuktikan fakta ini secara gamblang. Kontribusi mereka bukanlah sekadar catatan kaki dalam sejarah, melainkan pilar-pilar utama yang menopang bangunan keilmuan Islam. Sebagai contoh paling cemerlang, Sayyidah Aisyah RA. Kita mungkin tidak akan pernah mengenal kedalaman dan nuansa ilmu fikih (hukum Islam) serta ribuan hadis tentang kehidupan Rasulullah SAW tanpa kecerdasan luar biasa yang beliau miliki.
Aisyah RA bukan hanya seorang penghafal, beliau adalah seorang analis kritis, seorang muhaddits (ahli hadis), dan seorang faqih (ahli hukum). Setelah Rasulullah wafat, rumahnya menjelma menjadi madrasah, tempat di mana para sahabat senior, laki-laki maupun perempuan, datang untuk berkonsultasi, meminta klarifikasi, dan mengoreksi pemahaman mereka.
Beliau tidak segan mengoreksi pemahaman sahabat lain jika dianggap keliru, menunjukkan kapasitasnya sebagai guru bangsa yang sesungguhnya. Di sisi lain, di titik paling awal dimulainya peradaban ini, kita melihat sosok Sayyidah Khadijah RA. Perannya dalam dakwah bukan sekadar dukungan finansial, tetapi juga dukungan intelektual dan mental yang krusial.
Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dan merasakan kegelisahan yang mendalam, Khadijahlah yang memberikan validasi intelektual pertama, menenangkan, dan meyakinkan beliau akan kebenaran misi tersebut. Ia adalah orang pertama yang beriman, menggunakan kecerdasannya sebagai seorang pebisnis sukses untuk menjadi benteng pertama yang melindungi dakwah.
Kedua sosok agung ini yakni Aisyah yang sebagai rujukan utama keilmuan dan Khadijah sebagai fondasi keteguhan dakwah membuktikan satu hal yang tak terbantahkan. Bahwa perempuan yang terdidik, cerdas, dan diberdayakan adalah aset terbesar yang pernah dimiliki umat untuk membangun dan menjaga peradaban.
Baca Buletin Lainnya : Membentuk Karakter Pemuda Yang Berakhlak Mulia
Membangun Kembali Pilar Pendidikan
Pembangunan peradaban yang kokoh tidak dapat diwujudkan hanya melalui kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi semata, melainkan harus dimulai dengan pembangunan karakter dan kualitas sumber daya manusia . Dalam upaya fundamental ini, konsep Madrasatul Ūlā (Sekolah Pertama), yaitu lingkungan rumah tangga yang di dalamnya Ibu berperan sebagai pendidik utama menjadi titik sentral yang tak tergantikan.
Di sinilah letak urgensi dari pernyataan tersebut. Jika Madrasatul ula ini kokoh, maka kokoh pula masyarakat. Kekokohan ‘sekolah pertama’ ini berarti kita memiliki para ibu dan perempuan yang shalihah, cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan memiliki visi pendidikan yang jelas. Perempuan yang kokoh adalah ia yang mampu menanamkan fondasi aqidah yang lurus, menumbuhkan akhlakul karimah dalam setiap hembusan napas pengasuhan, dan menyalakan api hubbul ‘ilmi (cinta ilmu) di hati anak-anaknya sejak dini. Anak-anak yang lulus dari ’madrasah’ yang prima ini akan tumbuh menjadi individu yang tangguh, memiliki imunitas moral terhadap gempuran zaman, serta menjadi pribadi yang produktif dan solutif. Mereka adalah batu bata emas yang akan menyusun sebuah bangunan peradaban yang adil, makmur, dan beretika tinggi.
Sebaliknya, jika kita membiarkan sekolah pertama ini rapuh dengan mengabaikan pendidikan atau peran perempuan kita sedang merisikokan masa depan peradaban kita sendiri. Kerapuhan ini adalah sebuah tragedi kolektif yang dimulai ketika masyarakat meremehkan peran domestik sebagai pusat pendidikan, ketika hak perempuan untuk mendapatkan ilmu diabaikan, atau ketika seorang ibu dibiarkan berjuang sendirian tanpa dukungan sistemik dari suami dan kelompok masyarakat.
Ketika madrasah ini rapuh, ia akan menghasilkan lulusan yang juga rapuh atau generasi yang kehilangan identitas, mudah terseret arus dekadensi moral, tidak memiliki daya juang, dan terasing dari nilai-nilai luhur agamanya. Kegagalan ini bukanlah sekadar kegagalan satu keluarga, ini adalah tanda pasti dimulainya sebuah keruntuhan.
Baca Juga : Reaktualisasi Kepemimpinan Islam di Era Modern: Membangun Integritas dan Akhlak Pemimpin Muslim
Kita tidak sedang merisikokan satu atau dua nyawa, tetapi kita sedang mempertaruhkan seluruh tatanan sosial dan masa depan peradaban kita dengan membiarkannya runtuh dari dalam karena kita membiarkan pilar penyangga utamanya keropos dan tak terawat.
Lantas apa yang bisa dilakukan :
Ini bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab kita bersama sebagai umat muslim.
Artinya: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menegaskan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh Muslim, termasuk wanita. Karena itu, perempuan berhak dan berkewajiban menuntut ilmu agama maupun ilmu umum agar menjadi ibu yang cerdas dan mampu mendidik anak-anak menghadapi tantangan zaman. Dengan memberi dukungan berupa biaya, waktu, dan kesempatan belajar, kita sedang berinvestasi untuk kualitas generasi penerus.
Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.
Ayat ini mengajarkanpentingnya menghormati orang tua, terutama ibu yang telah berjuang untuk kehidupan kita. Kita perlu menghargai dan mendukung setiap usahanya dalam mendidik anak-anak. Apresiasi seperti ucapan terima kasih, pujian, dan perhatian sangat berarti, namun harus disertai dukungan nyata, seperti keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan memberi waktu istirahat bagi ibu. Sebagai masyarakat, kita juga perlu menciptakan lingkungan yang suportif dan menyediakan akses pada ilmu pengasuhan. Saat ibu merasa dihargai dan didukung, ia akan lebih mampu mendidik generasi yang berkualitas.
Sebagai kesimpulan, seluruh ikhtiar perbaikan dan pembangunan masyarakat harus bermuara pada satu investasi paling strategis yaitu penguatan fondasi pendidikan awal. Sehinggahnya, mari kita pastikan bahwa Sekolah Pertama (Madrasatul Ūlā) adalah pilar yang paling kokoh, tangguh, dan berkualitas.
Melalui komitmen kolektif untuk memuliakan dan memperkuat peran Ibu sebagai murabbi utama, menanamkan nilai-nilai akidah yang lurus dan akhlakul karimah, serta menyalakan semangat keilmuan di rumah. Kita sedang meletakkan batu pertama bagi kebangkitan umat. Hanya dari kekuatan fondasi yang bersumber dari rumah tangga inilah pilar-pilar peradaban Islam akan kembali menjulang tinggi, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga memiliki integritas moral yang mampu membawa keadilan dan kemakmuran bagi dunia.
Oleh : Eka Meitya Putri Akase, S.Ag. || Ustadzah Aktif Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta || || Walikelas TPA 3
Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)