Info Sekolah
Selasa, 04 Agu 2026
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
16 Januari 2026

Buletin E20 || Makna Isra’ Mi’raj: Perjalanan Ruhani Menuju Kedekatan Ilahi

Jum, 16 Januari 2026 Dibaca 151x

EDISI 20 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Penulis : Abdul Latif, S.Kom *)

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna spiritual sangat mendalam bagi umat Islam. Perjalanan luar biasa ini bukan sekadar kisah historis, melainkan sebuah pelajaran ruhani tentang keimanan, ketaatan, dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT Isra’ Mi’raj menjadi bukti kekuasaan Allah sekaligus penghibur bagi Rasulullah SAW di masa-masa sulit dalam perjuangan dakwahnya.

Makna Isra’ Mi’raj

Secara bahasa, Isra’ berarti perjalanan malam, sedangkan Mi’raj berarti naik. Dalam istilah syariat, Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, atas kehendak Allah SWT.

Latar Belakang Terjadinya Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan). Pada masa ini, Rasulullah kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya: Sayyidah Khadijah R.A, istri tercinta yang menjadi pendukung dakwah, dan Abu Thalib, paman yang melindungi beliau dari gangguan kaum Quraisy. Tekanan dakwah semakin berat, bahkan Nabi Muhammad SAW mengalami penolakan keras saat berdakwah ke Thaif.

Dalam kondisi inilah Allah SWT menghibur Rasul-Nya dengan memperjalankannya dalam Isra’ Mi’raj sebagai bentuk penguatan iman dan peneguhan misi kenabian.

Isra’ Mi’raj Dalam Perspektif Al Qur’an

Al Qur’an mengabadikan peristiwa Isra’ dalam firman Allah SWT:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalan kan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra’ Ayat 1)

Ayat diatas memiliki dimensi teologis yang sangat dalam. Allah menggunakan kata “Subḥān” (Maha Suci), yang menegaskan bahwa peristiwa ini sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah dan mustahil diukur dengan logika manusia semata. Penyebutan Nabi Muhammad SAW sebagai “hamba-Nya” (‘abdihī) menunjukkan bahwa puncak kemuliaan manusia justru terletak pada kehambaannya kepada Allah.

Sementara itu, isyarat tentang Mi’raj disebutkan dalam surah An-Najm:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ — عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

Artinya:“Sungguh, dia Nabi Muhammad benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. (QS. An-Najm 13–14).

Ayat diatas menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk biasa.

Makna Mi’raj: Pendakian Ruhani dan Kedekatan Ilahi

Mi’raj bukan sekadar perjalanan vertikal dari bumi ke langit, melainkan simbol pendakian spiritual seorang hamba menuju Rabb-nya. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW bertemu para nabi di setiap lapisan langit, yang mengandung pesan bahwa dakwah Islam adalah kelanjutan dari risalah tauhid para nabi sebelumnya. Puncak Mi’raj adalah saat Rasulullah SAW menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan kedudukan istimewa shalat dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda: “Shalat adalah tiang agama.” Bahkan dalam riwayat lain disebutkan: “Shalat adalah mi’raj-nya orang mukmin.” Artinya, sebagaimana Rasulullah SAW dimi’rajkan secara fisik dan ruhani, seorang mukmin dimi’rajkan secara spiritual melalui shalat yang khusyuk dan penuh kesadaran.

Shalat sebagai Inti Pesan Isra’ Mi’raj

Perintah shalat awalnya diwajibkan sebanyak lima puluh kali, kemudian diringankan menjadi lima waktu atas permohonan Rasulullah SAW. Namun, pahala yang diberikan tetap setara dengan lima puluh shalat.

Hal ini menunjukkan dua prinsip penting:

  • Kasih sayang Allah kepada umat manusia
  • Pentingnya kontinuitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari

Allah SWT berfirman:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Artinya: Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk. (QS. Al-Baqarah · Ayat 238)

Shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga sarana pembentukan karakter, pengendalian moral, dan penjernihan jiwa.

Dimensi Sosial dan Etika Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal (ḥabl min Allāh), tetapi juga berdampak pada hubungan horizontal (ḥabl min an-nās). Shalat yang benar seharusnya melahirkan akhlak yang baik. Allah SWT menegaskan: 

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut · Ayat 45).

Dengan demikian, peringatan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum evaluasi diri: apakah shalat yang kita lakukan sudah membentuk kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial?

Relevansi Isra’ Mi’raj di Era Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, Isra’ Mi’raj mengingatkan manusia untuk tidak terjebak dalam orientasi duniawi semata. Manusia membutuhkan ruang spiritual untuk menjaga keseimbangan jiwa. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya diukur dari teknologi dan materi, tetapi dari kedekatan manusia dengan Allah dan kualitas akhlaknya dalam kehidupan sosial. 

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan ruhani yang mengajarkan bahwa kemuliaan manusia terletak pada ketundukannya kepada Allah SWT. Melalui shalat, umat Islam diberi jalan untuk terus “mi’raj” setiap hari, mendekatkan diri kepada Ilahi, dan menata kehidupan dengan nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia.

Semoga peringatan Isra’ Mi’raj tidak berhenti pada perayaan simbolik, tetapi benar-benar menghidupkan kesadaran spiritual dan memperbaiki kualitas ibadah kita kepada Allah SWT.


(* Pengajar Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)


Referensi :

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih al-Bukhari
  • Shahih Muslim
  • Al-Baihaqi, Syu‘abul Iman
  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah
  • Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, Lentera Hati
  • Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir
  • https://uici.ac.id/5-ulama-indonesia-yang-pemikirannya-diakui-dunia/

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart