Segala puji bagi Allah Ta’ala, sesembahan yang Haq dan pantas untuk diibadahi di setiap waktu dan zaman juga di segala kondisi dan keadaan. Pujian bagi-Nya karena telah memberi nikmat bagi kita untuk menyempurnakan Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.
Ramadhan telah berlalu. Ramadhan telah meninggalkan kita. Merupakan karunia besar bagi hamba-hamba yang beriman adalah bisa bertemu dengan Ramadhan serta dapat menyempurnakan ibadah di dalamnya hingga akhir bulan Ramadhan.
Kita bersyukur tahun ini masih Allah subhanahu wata’ala beri keempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan, musim ketaatan. Pada musim tersebut seorang hamba mudah dan ringan mengerjakan serangkaian ibadah yang diutamakan di mana terkadang berat untuk mengerjakannya di selain bulan Ramadhan.
Ramadhan seringkali dianggap sebagai “madrasah” atau tempat pelatihan spiritual bagi umat Muslim. Namun, keberhasilan sesungguhnya dari pelatihan tersebut tidak diukur dari seberapa giat seseorang beribadah di dalam bulan suci, melainkan sejauh mana nilai-nilai tersebut membekas dan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Inilah yang disebut dengan Istiqomah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَاَنۡـتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.(Q.S Ali-Imran:102).
Secara etimologi, istiqomah berasal dari akar kata qaama yang berarti berdiri tegak. Dalam konteks spiritual, istiqomah adalah komitmen untuk tetap berada di jalan yang lurus (shiratal mustaqim) tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih…'” (QS. Fussilat: 30).
Ayat ini menegaskan bahwa istiqomah adalah kunci ketenangan batin di dunia dan keselamatan di akhirat.
Dalil Hadist tentang Konsistensi Amal
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkelanjutan (kontinu) meskipun sedikit.”( HR. Muslim no. 783)
Relevansi: Jika di bulan Ramadhan Anda membaca 1 juz sehari, lalu di bulan Syawal Anda turun menjadi 1 halaman namun dibaca setiap hari, itu lebih dicintai Allah daripada membaca 10 juz dalam sehari lalu berhenti total selama setahun.
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
”Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.” Beliau menjawab: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqomahlah.” [HR. Muslim, no. 38]
Relevansi: Iman tanpa istiqomah hanyalah pengakuan lisan; istiqomah adalah pembuktian dari iman tersebut.
Menjaga konsistensi tentu tidak mudah. Ada beberapa faktor yang seringkali menjadi penghambat:
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).
Akhirnya, marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan, tetapi lalai di bulan-bulan lainnya.
Jika selama Ramadhan masjid-masjid penuh sesak oleh jamaah shalat fardu dan tarawih, maka ujian istiqomah yang sesungguhnya adalah menjaga pemandangan tersebut di bulan-bulan lainnya. Shalat berjamaah bukan sekadar rutinitas, melainkan mekanisme pendisiplinan diri (self-discipline) yang paling efektif.
Rasulullah bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650).
Makna dan Keutamaan 27 Derajat:
Al-Qur’an dan dzikir bukan dilakukan “jika ada waktu luang”, melainkan “disediakan waktu khusus”. Ini adalah bentuk penghormatan seorang hamba kepada Kalamullah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41-42)
Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Ramadhani
Ada sebuah ungkapan bijak dari para ulama salaf yang sangat menggetarkan hati:
“Kun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyan.”
(Jadilah hamba Allah yang setia setiap saat, dan jangan menjadi hamba yang hanya menyembah-Nya di bulan Ramadhan saja).
Mari kita tutup renungan ini dengan kesadaran bahwa kita tidak akan mampu istiqomah tanpa pertolongan-Nya. Keberhasilan Ramadhan kita tercermin dalam doa yang terpanjat tulus:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mudahkan kami beribadah di bulan Ramadhan, mudahkanlah pula kami untuk mencintai ketaatan di bulan-bulan lainnya. Jangan biarkan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk. Terimalah rukuk kami, sujud kami, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang istiqomah hingga akhir hayat.”
Akhirnya, selamat melanjutkan perjuangan. Ramadhan mungkin telah pergi, namun Allah SWT pemilik Ramadhan selalu ada bagi mereka yang ingin kembali. Istiqomahlah, karena itulah bukti nyata bahwa puasamu telah diterima.