Info Sekolah
Selasa, 04 Agu 2026
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
23 Januari 2026

Buletin E21 || Sholat: Tiang Agama dan Warisan Agung Isra’ Mi’raj

Jum, 23 Januari 2026 Dibaca 190x

EDISI 21 || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Penulis : Maya Najwa Kholida *)

Sholat merupakan ibadah utama dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat istimewa. Ia bukan sekadar rutinitas harian, tetapi menjadi penopang utama keimanan seorang Muslim. Dalam ajaran Islam, sholat menempati posisi sentral sebagai penghubung langsung antara hamba dengan Allah SWT. Lebih dari itu, sholat adalah ibadah pertama yang diwajibkan melalui peristiwa monumental Isra’ Mi’raj, sehingga memiliki dimensi spiritual, historis, dan teologis yang sangat dalam.

Sholat sebagai Tiang Agama

Rasulullah SAW bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
(HR. Tirmidzi No. 2616, hasan shahih)

Hadis ini menegaskan bahwa sholat berfungsi sebagai penyangga utama bangunan agama. Sebagaimana sebuah bangunan tidak akan berdiri kokoh tanpa tiang, demikian pula agama seseorang tidak akan tegak tanpa sholat yang terjaga.

Al-Qur’an juga menegaskan perintah menjaga sholat secara konsisten:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua sholat dan sholat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah: 238)

Sholat menjadi amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika sholatnya baik, maka amal lainnya akan mengikuti; jika rusak, maka rusak pula amal yang lain.

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya.”
(HR. Abu Dawud No. 864, shahih)

Warisan Agung Isra’ Mi’raj

Sholat memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki ibadah lain, karena diwajibkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara malaikat, yaitu saat Nabi Muhammad SAW melaksanakan Isra’ Mi’raj.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…”
(QS. Al-Isra’: 1)

Dalam peristiwa tersebut, sholat awalnya diwajibkan lima puluh waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu, namun dengan pahala tetap lima puluh. Hal ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT sekaligus menegaskan bahwa sholat adalah hadiah istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW.

“Sholat itu lima waktu, namun pahalanya sama dengan lima puluh.”
(HR. Bukhari No. 349, Muslim No. 162)

Sholat sebagai Pembinaan Jiwa dan Akhlak

Sholat bukan hanya kewajiban formal, tetapi juga sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Di dalam sholat terkandung nilai kedisiplinan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan. Sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk karakter Muslim yang kuat secara spiritual dan sosial.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Dalam sholat, seorang Muslim diajak untuk berhenti sejenak dari urusan dunia, menghadap Allah SWT, dan menyadari hakikat dirinya sebagai hamba. Oleh karena itu, sholat menjadi kebutuhan ruhani, bukan sekadar beban kewajiban.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ketenanganku ada dalam sholat.”
(HR. Ahmad No. 14037, shahih)

Makna Sholat dalam Kehidupan

Sholat adalah tiang agama sekaligus warisan paling berharga dari Isra’ Mi’raj. Menjaga sholat berarti menjaga iman dan agama. Oleh sebab itu, setiap Muslim dituntut tidak hanya melaksanakan sholat secara rutin, tetapi juga meningkatkan kualitas kekhusyukan dan pemahaman maknanya.

Dengan sholat yang baik, akan lahir pribadi Muslim yang:

  • Kokoh imannya
  • Mulia akhlaknya
  • Tenang jiwanya
  • Kuat menghadapi ujian kehidupan

Selain sebagai ibadah individual, sholat juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Sholat berjamaah, khususnya di masjid, menumbuhkan rasa persaudaraan, kesetaraan, dan kepedulian antar sesama Muslim. Dalam sholat berjamaah tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun kekayaan; semua berdiri sejajar di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan sholat berjamaah sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah:

“Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari No. 645, Muslim No. 650)

Hal ini menunjukkan bahwa sholat tidak hanya membina hubungan vertikal dengan Allah (ḥablun minallāh), tetapi juga memperkuat hubungan horizontal antar manusia (ḥablun minannās).

Sholat juga menjadi indikator keislaman dan pembeda antara iman dan kekafiran. Rasulullah SAW menegaskan bahwa meninggalkan sholat bukanlah perkara ringan, melainkan dosa besar yang dapat menyeret seseorang pada kehancuran iman. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.”
(HR. Ahmad No. 22428, Tirmidzi No. 2621, shahih)

Dalil ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak meremehkan sholat. Menjaga sholat berarti menjaga identitas keislaman, sedangkan meremehkannya dapat melemahkan bahkan menghilangkan cahaya iman dalam hati seorang Muslim.

Lebih dari itu, sholat merupakan sarana pertolongan dan kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Ketika seorang Muslim dilanda kesulitan, Islam mengajarkan untuk kembali kepada sholat dan kesabaran sebagai jalan keluar. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menegaskan bahwa sholat adalah sumber kekuatan batin, penenang jiwa, dan jalan mendekatkan diri kepada pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, sholat seharusnya menjadi tempat kembali pertama bagi seorang Muslim dalam setiap kondisi, baik lapang maupun sempit.


(* Pengajar Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)


Referensi :

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih Bukhari, Kitab Ash-Shalah
  3. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman
  4. Sunan Tirmidzi
  5. Tafsir Ibnu Katsir
  6. Kementerian Agama RI – quran.kemenag.go.id
  7. Rumaysho.com – Kajian Fikih & Hadis
  8. Muslim.or.id – Artikel Keislaman Berbasis Dalil
  9. Jurnal Studia Islamika – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart