Info Sekolah
Selasa, 04 Agu 2026
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
10 April 2026

Buletin E28 || Istiqomah Dalam Ketaatan: Bukti Keberhasilan Ramadhan

Jum, 10 April 2026 Dibaca 120x

Segala puji bagi Allah Ta’ala, sesembahan yang Haq dan pantas untuk diibadahi di setiap waktu dan zaman juga di segala kondisi dan keadaan. Pujian bagi-Nya karena telah memberi nikmat bagi kita untuk menyempurnakan Ramadhan.

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.

Ramadhan telah berlalu. Ramadhan telah meninggalkan kita. Merupakan karunia besar bagi hamba-hamba yang beriman adalah bisa bertemu dengan Ramadhan serta dapat menyempurnakan ibadah di dalamnya hingga akhir bulan Ramadhan.

Kita bersyukur tahun ini masih Allah subhanahu wata’ala beri keempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan, musim ketaatan. Pada musim tersebut seorang hamba mudah dan ringan mengerjakan serangkaian ibadah yang diutamakan di mana terkadang berat untuk mengerjakannya di selain bulan Ramadhan.

Ramadhan seringkali dianggap sebagai “madrasah” atau tempat pelatihan spiritual bagi umat Muslim. Namun, keberhasilan sesungguhnya dari pelatihan tersebut tidak diukur dari seberapa giat seseorang beribadah di dalam bulan suci, melainkan sejauh mana nilai-nilai tersebut membekas dan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Inilah yang disebut dengan Istiqomah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَاَنۡـتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.(Q.S Ali-Imran:102).

  1. Memahami Hakikat Istiqomah

Secara etimologi, istiqomah berasal dari akar kata qaama yang berarti berdiri tegak. Dalam konteks spiritual, istiqomah adalah komitmen untuk tetap berada di jalan yang lurus (shiratal mustaqim) tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.

  1. Definisi Menurut Para Ulama
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menafsirkan istiqomah sebagai kemurnian tauhid; tidak menyekutukan Allah dengan apa pun.
  • Umar bin Khattab r.a. menjelaskan bahwa istiqomah adalah bertahan pada perintah dan larangan, serta tidak menipu diri sendiri seperti musang yang licik.
  • Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa istiqomah adalah tetap dalam ketaatan kepada Allah secara totalitas.
  1. Landasan Teologis

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih…'” (QS. Fussilat: 30).

Ayat ini menegaskan bahwa istiqomah adalah kunci ketenangan batin di dunia dan keselamatan di akhirat.

Dalil Hadist tentang Konsistensi Amal

  • Pentingnya Kontinuitas (HR. Muslim)

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkelanjutan (kontinu) meskipun sedikit.”( HR. Muslim no. 783)

Relevansi: Jika di bulan Ramadhan Anda membaca 1 juz sehari, lalu di bulan Syawal Anda turun menjadi 1 halaman namun dibaca setiap hari, itu lebih dicintai Allah daripada membaca 10 juz dalam sehari lalu berhenti total selama setahun.

  • Wasiat Singkat namun Padat (HR. Muslim)

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ     قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

”Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.” Beliau menjawab: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqomahlah.” [HR. Muslim, no. 38]

Relevansi: Iman tanpa istiqomah hanyalah pengakuan lisan; istiqomah adalah pembuktian dari iman tersebut.

  1. Tantangan Pasca Ramadhan

Menjaga konsistensi tentu tidak mudah. Ada beberapa faktor yang seringkali menjadi penghambat:

  1. Faktor Lingkungan: Lingkungan kolektif yang mendukung ibadah di bulan Ramadhan perlahan menghilang.
  2. Euforia Hari Raya: Perayaan Idul Fitri seringkali kebablasan sehingga membuat seseorang merasa “bebas” dari beban ibadah.
  3. Tipu Daya Syaithan: Setelah dibelenggu, syaithan kembali dengan strategi yang lebih matang untuk merusak hasil “tarbiyah” selama Ramadhan.
  4. Sifat Futur: Rasa jenuh atau lesu dalam beribadah yang manusiawi namun berbahaya jika dibiarkan.
  5. Kiat Menjaga Istiqomah Pasca Ramadhan
  1. Memulai Puasa Sunnah: Segera mulai dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebagai transisi untuk membiasakan diri kembali beribadah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).   

Akhirnya, marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan, tetapi lalai di bulan-bulan lainnya.

  1. Menjaga Shalat Berjamaah: Tetap mendisiplinkan diri untuk shalat lima waktu di masjid guna menjaga kualitas spiritual.

Jika selama Ramadhan masjid-masjid penuh sesak oleh jamaah shalat fardu dan tarawih, maka ujian istiqomah yang sesungguhnya adalah menjaga pemandangan tersebut di bulan-bulan lainnya. Shalat berjamaah bukan sekadar rutinitas, melainkan mekanisme pendisiplinan diri (self-discipline) yang paling efektif.

Rasulullah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650).

Makna dan Keutamaan 27 Derajat:

  1. Kelipatan Pahala: Para ulama memaknai “derajat” sebagai 27 kali lipat shalat sendirian.
  1. Rukun Shalat: Keunggulan ini dihitung per rukun, sehingga setiap ruku’ dan sujud berjamaah dilipatgandakan pahalanya dibanding sendirian.
  2. Syiar Islam: Berjamaah memakmurkan masjid, mempererat silaturahmi, dan memperkuat syiar Islam.
  3. Pengampunan Dosa: Langkah kaki ke masjid dan shalat berjamaah dapat menggugurkan dosa.
  1. Manajemen Waktu yang Baik: Mengatur jadwal harian agar tetap memiliki waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an dan berdzikir.

Al-Qur’an dan dzikir bukan dilakukan “jika ada waktu luang”, melainkan “disediakan waktu khusus”. Ini adalah bentuk penghormatan seorang hamba kepada Kalamullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

(QS. Al-Ahzab: 41-42)

  1. Berkumpul dengan Orang Shaleh: Lingkungan yang positif membantu menguatkan tekad untuk terus berbuat baik.
    1. Aktif di Komunitas Masjid: Menjadi relawan atau rutin hadir di kajian rutin.
    2. Filter Media Sosial: Berhenti mengikuti akun yang memicu perilaku konsumtif/negatif, dan ikuti akun yang memberikan inspirasi ketaatan.
    3. Cari Sahabat Karib (Bithonah): Miliki setidaknya satu atau dua sahabat yang berani menegur jika kita mulai lalai dalam ketaatan.

Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Ramadhani

Ada sebuah ungkapan bijak dari para ulama salaf yang sangat menggetarkan hati:

“Kun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyan.”

(Jadilah hamba Allah yang setia setiap saat, dan jangan menjadi hamba yang hanya menyembah-Nya di bulan Ramadhan saja).

Mari kita tutup renungan ini dengan kesadaran bahwa kita tidak akan mampu istiqomah tanpa pertolongan-Nya. Keberhasilan Ramadhan kita tercermin dalam doa yang terpanjat tulus:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mudahkan kami beribadah di bulan Ramadhan, mudahkanlah pula kami untuk mencintai ketaatan di bulan-bulan lainnya. Jangan biarkan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk. Terimalah rukuk kami, sujud kami, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang istiqomah hingga akhir hayat.”

Akhirnya, selamat melanjutkan perjuangan. Ramadhan mungkin telah pergi, namun Allah SWT pemilik Ramadhan selalu ada bagi mereka yang ingin kembali. Istiqomahlah, karena itulah bukti nyata bahwa puasamu telah diterima.

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart