Info Sekolah
Selasa, 04 Agu 2026
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
  • Pendidikan Al Qur'an Nitikan Yogyakarta: "Membantu Mewujudkan Generasi Qur'ani" Senin-Jum'at 16.00-17.00 dan Khusus hari Rabu 16.00-17.30 WIB.
26 Desember 2025

Buletin E17 || Spesial Penutup Tahun 2025 || Menyemai Harapan di Akhir Tahun Dengan Iman

Jum, 26 Desember 2025 Dibaca 153x

EDISI 17||Spesial Penutup Akhir Tahun || Diterbitkan Oleh : Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta

Akhir tahun sering menjadi waktu istimewa untuk merenung; apa yang telah kita capai, apa yang masih menjadi cita-cita, serta bagaimana kita menyambut tahun yang akan datang. Dalam tradisi Islam, refleksi semacam ini bukan hanya tentang evaluasi duniawi, tetapi juga tentang pembaruan iman dan harapan yang berakar kepada Allah SWT.

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memberikan panduan spiritual yang relevan dengan pembahasan ini, terutama mengenai konsep harapan yang benar yang berakar pada iman dan diwujudkan melalui amal, bukan harapan kosong tanpa dasar. Karya ini secara sistematis membangun relasi antara ilmu, keimanan, dan perbuatan sebagai fondasi kehidpuan manusia di dunia yang bernilai serta bekal menuju akhirat.

Harapan (Raja’) Harus Disertai Iman 

Dalam tradisi keilmuan Islam, rajā’ dimaknai sebagai keadaan batin yang mengharapkan rahmat, ampunan, dan karunia Allah SWT, disertai kepercayaan yang kuat terhadap sifat kuasa dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, harapan tidak dapat dipahami sebatas optimisme batin, tetapi menjadi bagian dari kondisi spiritual seorang mukmin yang berhubungan langsung dengan iman dan amal

.Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Al-Ghazali membahas perjalanan spiritual yang dapat ditempuh manusia untuk semakin dekat dengan Tuhan. Ia menempatkan harapan sebagai unsur penting dalam menumbuhkan cinta kepada Allah dan membangun pengalaman spiritual. Menurut Imam Al-Ghazali, raja’ merupakan bentuk harapan terhadap sesuatu yang akan datang yang menumbuhkan semangat dan ketenteraman jiwa, karena bertumpu pada pengharapan akan rahmat dan karunia Allah SWT yang tak terbatas serta keyakinan akan pahala dari amal kebaikan yang dilakukan. Harapan ini menjadi unsur penting dalam mendorong seseorang untuk senantiasa taat dan tekun dalam beribadah kepada Allah SWT, sekaligus memperkuat keyakinan dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehiduan.

Iman menjadi pondasi utama bagi harapan, karena iman menanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Dari iman inilah lahir keberanian untuk bangkit dari kegagalan, kekuatan untuk bertaubat dari kesalahan, dan kesabaran dalam menghadapi ujian. Tanpa iman, harapan hanya bergantung pada keadaan dan manusia; mudah runtuh ketika realita tidak sesuai keinginan. Sebaliknya, iman tanpa harapan dapat menjadikan hati kering dan putus asa. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali mengajarkan keseimbangan: takut (khauf) dan harap (raja’). Harapan yang disertai iman melahirkan optimisme spiritual, bukan sekedar angan-angan belaka, tetapi keyakinan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, bernilai di sisi Allah SWT.

Muhasabah Akhir Tahun : Keseimbangan antara Khauf (Takut) dan Raja’ (Harap)

Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya keseimbangan antara harapan dan rasa takut dalam menjalin hubungan yang tulus dengan Tuhan. Harapan yang tidak diiringi rasa tanggung jawab dan kesadaran akan hukuman Allah dapat melahirkan sikap puas diri, sementara ketakutan yang berlebihan dapat menjerumuskan pada keputusasaan. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam spiritualitas Islam, harapan (raja’) tidak dapat dipisahkan dari rasa takut (khauf), karena keduanya berfungsi mencegah manusia dari keputusasaan dan sikap lalai. Pandangan tersebut selaras dengan konsep etika Al-Ghazali yang menempatkan keseimbangan spiritual sebagai sarana untuk mencapai kedewasaan iman.

Spiritualitas islam melihat bahwa perjalanan iman seorang mukmin harus dibangun di atas keseimbangan sikap batin. Islam tidak menekankan rasa takut semata, tetapi juga tidak mengajarkan hidup hanya dengan harapan. Oleh karena itu, para ulama menegaskan pentingnya khauf dan raja’ sebagai dasar utama yang membentuk keseimbangan spiritual, agar manusia terhindar dari keputusasaan dan sikap lalai.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa harapan tidak terlepas dari iman dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]: 218”

Ayat di atas menerangkan bahwa harapan terhadap rahmat Allah SWT tidak hanya muncul tanpa sebab, melainkan merupakan buah dari iman yang diwujudkan dalam amal nyata. Pada ayat tersebut disebutkan tiga hal utama yaitu iman, hijrah, dan jihad, sebagai acuan mereka untuk berharap akan rahmat Allah SWT. Hal ini sebagai bentuk bahwa harapan dalam islam memiliki dasar teologis dan praktis, tidak hanya sekedar perasaan optimis yang abstrak. Dengan demikian, akhir tahun bukan hanya semangat duniawi untuk target dan resolusi, tetapi sebuah harapan yang bersandar pada keyakinan Allah dan diwujudkan melalui amal nyata. Momentum refleksi ini bisa berupa menyadari nikmat Allah yang sering dilupakan, mengakui kesalahan, melakukan perubahan dengan bersungguh bertaubat, serta menamkan harapan dengan berlandaskan iman dan amal.

Penutup

Pada akhirnya, harapan, takut, dan iman merupakan hal yang harus berjalan seimbang yang kemudian akan membawa seorang hamba mendekat kepada Allah. Karena dengan mengharap rahmat dari Allah, manusia senantiasa menjauhi perbuatan tercela atau hal yang dilarang oleh Allah, seperti menjauh dari maksiat dan melaksanakan taubat kepada Allah karena ada dorongan dari hatinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah dengan mengharap kasih sayang-Nya. Dengan iman, harapan menjadi lurus; dengan harapan, iman tetap hidup dan bergerak dalam amal. Inilah bekal utama seorang muslim dalam menapaki kehidupan, hari demi hari, hingga akhir perjalanan.


Penulis : Ustadzah Astutik, S.Sos

Pengajar Aktif Pendidikan Al Qur’an Nitikan Yogyakarta || Wali Kelas TPAL || Wakabag Keustadzan 

Download Kumpulan Buletin : Di Sini (Download)


Daftar Pustaka

  • Al-Ghazali. Abu Hamid, ‘Ihya’ ‘Ulumiddin’, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Jil. 4, Kitab al-Khauf wa al-Raja’.
  • Almulla, Khwala & Mohsin Khan Abbasi, ‘Konsep Harapan dalam Ideologi Islam Tradisional: Diskusi tentang Pemikiran Imam Al-Ghazali’, Jurnal Agama Internasional, Vol. 5, No. 11, (2024).
  • Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 218.
  • Husna, Rifqotul & Nailun Ni’mh, “Konsep Al-Raja’ Dalam Al-Qur’an dan Hubungan Terhadap Mental”, USHULUNA: Jurnal Ilmu Usuluddin, Vol. 9, No. 2 (2023).
  • Nasr. Seyyed Hossein, ‘Islamic Spirituality: Foundations, New York: Crossroad Publis, (2007).

 

Alamat kami :

Alamat :
Kompleks Pemberdayaan Masyarakat PRM Nitikan, Jl. Sorogenen No. 25, Kelurahan
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telpon :
0858 - 7669 - 5655
Provinsi :
Daerah Istimewa Yogyakart